RSS
Facebook
Twitter

Kamis, 25 Oktober 2012

Mengapa Gangnam Style Tidak Laku di Jepang?



PSY dan Ban Ki-moon joget gangnam style (REUTERS/Eduardo Munoz)

PSY dan Ban Ki-moon joget gangnam style (REUTERS/Eduardo Munoz)
Bintang pop Korea, PSY, menjadi tersohor dan menapaki puncak tangga lagu di seluruh dunia akibat lagu Gangnam Style yang kocak itu. Beberapa selebritas dunia hingga politisi ikut menarikan joget kocak ala Gangnam asal Korea Selatan tersebut.


Di antaranya yang terkena virus "tarian menunggang kuda" adalah Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Kepada PSY, Ban mengatakan bahwa popularitasnya sebagai orang Korea Selatan paling terkenal sejagat digeser oleh lelaki 34 tahun ini.

Gangnam Style menempati posisi puncak di tangga lagu Inggris dan sekarang di posisi dua di Billboard Amerika Serikat. Namun, penyanyi asal Korea Selatan ini harus menelan pil pahit di Jepang. Lagunya bahkan tidak masuk jajaran Top 10, seperti di negara lainnya.

Di Negeri Sakura, Gangnam Style berada di posisi 30 tangga lagu iTunes Jepang. Beberapa blog musik di Jepang menuduh fenomena Gangnam Style terbantu oleh penayangan video di Youtube. Dengan sinis, para blogger musik Jepang mengatakan bahwa 531 juta penonton di Youtube itu palsu, menggunakan "bots" atau program otomatis.

Diberitakan Telegraph, ada juga yang mengatakan bahwa kegagalan Gangnam Style di Jepang adalah akibat sengketa pulau yang diklaim kedua negara. Pulau yang oleh Korsel disebut Dokdo dan Jepang disebut Takeshima ini sempat memicu beberapa kali ketegangan.

Korsel mengklaim, Jepang mengakui bahwa pulau itu milik Korea adalah pada tahun 1696 saat terjadi konflik antara pemerintah Korea dengan nelayan Jepang. Namun, Jepang mengaku memiliki pulau itu sejak abad ke 17, saat Takeshima masih masuk ke prefektur Shimane.
Faktor Tampang
Pendapat lainnya disampaikan oleh media hiburan Jepang, Cyzo: "K-Pop sangat populer di Jepang karena mereka menampilkan figur-figur cantik dan tampan. Sedangkan tampang PSY tidak pantas di layar. Jika memang PSY laku di Jepang, pasti tidak terjual banyak."

Institut Riset Gelombang Korea, sebuah badan yang didirikan untuk mempromosikan kebudayaan Korsel di seluruh dunia, mengatakan bahwa semua opini dari Jepang ini adalah bentuk kecemburuan atas kesuksesan PSY.

"Opini Jepang ini seperti kecemburuan dan rasa iri bocah SD," kata presiden institut tersebut, Han Koo Hyun, dalam pernyataan persnya. 
  • Yang ikut-ikut nih ....

  • isi bahasa mu!



  • Get this widget!